Operator kereta api isyaratkan kenaikan tarif

0
32

PT KAI Komuter Jabodetabek yang mengoperasikan Kereta Rel Listrik (KRL) di ibu kota dan sekitarnya berencana akan menaikkan tarif kereta jika pemerintah tetap akan menaikkan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada bulan April mendatang.

RRI Jakarta- Rencana Pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak dan Tarif Dasar Listrik tinggal menunggu waktu saja.

Rencana penaikan inipun disikapi banyak kalangan dengan bersiap menaikkan harga barang dan jasa.

Salah satunya kereta rel listrik KRL yang beroperasi di ibu kota dan sekitarnya.

Meski belum secara tegas menyatakan akan menaikkan tarif kereta, Sekretaris Perusahaan PT KAI Komuter Jabodetabek, Makmur Syaheran mengisyaratkan kemungkinan kenaikan tarif bisa saja dilakukan jika pemerintah jadi menaikkan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL).

Belum dijelaskan seberapa besar kemungkinan tarif baru kereta yang bakal diterapkan karena masih harus menunggu pengumuman resmi kenaikan BBM dan TDL.

Namun demikian, menurut Makmur Syaheran, besaran kenaikan tariff kereta akan tetap memperhitungkan keberadaan PT Kereta Api yang selain sebagai perusahaan profit juga masih mengemban tugas social yakni pelayanan public.

“ Bahan bakar kita kan dari listrik. Jika pemerintah menaikkan TDL, tentu akan mempengaruhi biaya operasi kereta. Kenaikan tariff kereta harus kita pikirkan bersama untuk mencapai keseimbangan,”kata Makmur Syaheran hari Selasa (13/3/2012).

Dijelaskan lebih lanjut, kenaikan tariff kereta jika hal itu dilakukan, tidak semata mata hanya untuk mengejar keuntungan namun untuk keseimbangan agar PT Kereta Api tumbuh.

Pertumbuhan diperlukan agar kelanjutan perusahaan ini melayani public bisa terus dilanjutkan, termasuk menjadi bagian dari upaya mengatasi persoalan kemacetan di ibu kota.

“Kami mohon semua warga masyarakat perlu memahami jika kemudian kereta api menaikkan tariff kereta, jangan sampai tariff kereta dibikin semurah mungkin tapi kita tidak bisa berkembang.”tambah Makmur.

Dari hampir 7 juta populasi di DKI, warga yang melakukan mobilitas dengan kereta api tidak lebih dari 3 persen. Jumlah ini masih terlalu kecil, namun dengan keterbatasan armada dan infrastruktur, pelayanan terhadap para penumpang menurut Makmur Syaheran masih belum ideal. (bp-a1/rth)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here