Harga BBM bakal melambung tinggi, siap siap ongkos angkutan umum naik

0
30

Rencana pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan dalih tingginya harga minyak mentah dunia juga membuat para pengusaha angkutan diperlakukan tidak adil. Merekapun kini bersiap untuk menaikkan tariff angkutan hingga 30 persen.

RRI Jakarta- Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nampaknya hanya tinggal menunggu waktu.

Berbeda dengan beberapa waktu lalu, menghadapi rencana kenaikan BBM yang katanya akan dilakukan pada awal bulan April 2012 mendatang, para pengusaha angkutan umum terlihat tidak berdaya untuk melakukan penolakan.

Mereka tidak lagi mengancam akan melakukan aksi mogok operasi kecuali akan melakukan negosiasi untuk menaikkan harga ongkos angkutan umum sekitar 30 persen.

Saat ini kata Ketua Organda DKI Sudirman, para pengusaha angkutan tengah menghitung kepastian besaran kenaikan tariff angkutan di ibu kota untuk kemudian akan diusulkan ke pemerintah Propinsi DKI Jakarta.

“Kami sebenarnya tidak setuju rencana tersebut. Dengan naiknya BBM, membeli onderdil untuk mengganti onderdil yang rusak dipastikan akan susah, karena harganya juga pasti naik. Sementara kami tidak bisa menaikkan tariff tinggi tinggi,”kata Ketua Organda DKI Jakarta, Sudirman saat berbincang dengan RRI Jakarta, Kamis (1/3/2012) pagi.

Di ibu kota, tariff angkutan umum terakhir dinaikkan sejak bulan Juli 2009 dua tahun silam. Tarif yang berlaku untuk Mikrolet Rp 2800/penumpang, Metromini dan Kopaja Rp 2000, Patas non AC Rp 6000/penumpang.

Menurut Sudirman, biaya operasional angkutan umum 30 persen nya adalah untuk membeli BBM. Agar tidak berdampak luas terhadap kesejahteraan awak angkutan, para pengusaha berharap mereka diperlakukan adil semisal tetap diberikan subsidi meski bentuknya bukan bantuan langsung tunai namun keringanan biaya STNK dan bea balik nama termasuk serius memberantas pungutan liar.

“Kalau BBM mau dinaikkan silahkan saja. Tapi kami para pengusaha merasa diperlakukan tidak adil, karena saat ini kenaikan BBM dipukul rata. Semestinya angkutan umum tetap di beri subsidi karena dampaknya akan sangat luar termasuk kenaikan ongkos tariff penumpang dan akan merembet ke kenaikan harga lain,”ucap Sudirman.

Sebelumnya, dalam rapat kerja dengan DPR, Pemerintah hanya mengajukan dua opsi terkait BBM bersubsidi meski DPR belum menyatakan sikap. Kedua opsi itu adalah menaikkan harga BBM bersubsidi Rp 1500 dan tetap memberikan subsidi namun dengan besaran yang terbatas dan tetap. Menurut Pemerintah, jika opsi kedua ini diberlakukan, berapapun harga minyak dunia naik atau turun maka subsidi BBM tetap dikucurkan. (bp-a1/jpi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here