Presiden SBY Ceramah di Universitas Peking

0
53

Presiden: Seperti China, Indonesia Telah Mengalami Transformasi Besar
Beijing: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan ceramah di Peking University, Kamis (23/10) siang. Presiden SBY memberikan ceramah berjudul Indonesia, China and East Asia: Building Bridges During Turbulent Times, di hadapan lebih kurang 500 mahasiswa. Kedatangan Presiden SBY dan Ibu Ani disambut antusias mahasiswa Universitas Peking yang mengibarkan bendera mini Indonesia dan Cina.

Dalam ceramahnya Presiden SBY memberikan gambaran komprehensif tentang Indonesia. “Seperti China, Indonesia telah melalui mengalami transformasi besar dalam 10 tahun terakhir. Kami telah sepenuhnya bangkit dari krisis keuangan tahun 1997. Pemilihan umum kami di tahun 1999 dan 2004 adalah puncak dari transisi demokrasi kami. Pada 2004, saya merasa terhormat menjadi Presiden Indonesia pertama yang dipilih secara langsung,” ujar SBY.

“Kami juga telah menyelesaikan konflik separatis, yang berarti Indonesia hari ini lebih bersatu dan lebih kuat dari sebelumnya. Dan kami telah memperoleh kembali stabilitas politik. Ekonomi kami juga membaik, meskipun pertumbuhan kami masih di bawah China. Pertumbuhan ekonomi kami tahun lalu adalah yang tertinggi setelah krisis. Walaupun ekonomi global melambat, diharapkan pertumbuhan kami di tahun 2008 mencapai antara 6 sampai 6.3 persen,” SBY menjelaskan.

Seiring dengan perubahan di Indonesia, begitu juga dengan hubungan Indonesia dengan China. Sejak 2005, Indonesia dan China telah memasuki wilayah kemitraan strategis. “Ini menjadi kemajuan terbesar dalam diplomasi kami. Ini menjadi kepuasan pribadi bagi saya melihat hubungan Indonesia dengan China berkembang dan menuju pada level yang baru. Apa yang perlu kita lakukan sekarang adalah memperdalam dan mengembangkan kemitraan strategis,” lanjutnya.

”Mengapa kita bermitra strategis? Itu untuk berbagai alasan. China adalah negara dengan populasi penduduk terbanyak dan Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat. Hubungan kami memiliki pengaruh strategis pada national interest. Sebagai contoh, perdagangan bilateral Indonesia-China tahun 2008 diharapkan melampaui 30 miliar dolar seperti yang telah saya dan Presiden Hu Jintao rencanakan tahun 2005 dan akan secara mudah mencapai 30 miliar dolar pada tahun 2010,” terang SBY.

Presiden SBY berpendapat, situasi dunia telah memanggil untuk mengambil langkah tegas membuat dunia lebih baik bagi generasi penerus. ”Saya tidak memiliki keraguan bahwa China akan merespon pada panggilan itu. Indonesia akan merespon karena itu sesuai dengan amanat konstitusi untuk dilakukan,” kata SBY. Di akhir ceramahnya, Presiden mendapatkan tepuk tangan yang hangat dari para peserta. Mereka semua berdiri dan memberikan tepuk tangannya.

Hadir dalam kesempatan tersebut Senior Professor of Indonesian Studies of School of Foreign Languages, Prof. Kong Yuanzhi yang memberikan buku karangannya dalam bahasa Indonesia kepada Presiden SBY tentang sejarah hubungan persahabatan RI-RRT dan studi tentang Laksamana Zheng He. Mendampingi Presiden SBY, antara lain, Menko Polhukkam Widodo AS, Menlu Hassan Wirajuda, Mendag Mari E. Pangestu, Meneg LH Rachmat Witoelar, Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri, dan Rektor IPB Herry Suhardiyanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here